Monday, February 18, 2019

Antologi 9 SGSI (Sahabat Guru Super Indonesia)


Dulu, menulis merupakan kegiatan yang sungguh berat untuk dilakukan. Beribu alasan akan kulontarkan sebagai upayaku untuk menghindarinya. Tidak bisa karena inilah, tidak ada waktu karena itulah dan segudang alasan lainnya.


Namun, pengalaman membuat ku sadar bahwa apapun kegiatannya, cobalah untuk memulainya. Kita takkan pernah tahu, apakah kegiatan itu dapat diselesaikan atau akan terbengkalai ditengah jalan. Yang penting, beranilah untuk mengawalinya.

Itulah akhirnya, aku memberanikan diri bergabung dengan kelas antologi 9 SGSI. meski ternyata kelas telah berjalan dua pertiga kegiatannya, namun aku usahakan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Hingga akhirnya naskah sebagai tugas terakhir di kelas antologi 9 dapat terselesaikan. Dan mimpi untuk mempunyai buku dengan nama sendiri terukir di sana akhirnya terwujud. Aku menyadari tulisan yang kubuat masih jauh dari indah.
Berikut tugas 1 dan tugas 2 yang kubuat, karena masuk terlambat maka tulisannya hanya menghiasi layar kelas saja. Tulisan ini merupakan kenangan pertama kalinya aku mengikuti kelas menulis. semoga keinginan untuk menulis takkan pernah sirna.

Tugas 1

Buku Pertama

Disaat kembali diingatkan tentang buku pertama yang dibaca, yang langsung terlintas dalam ingatan adalah bundelan majalah Bobo bekas. Ya, dulu setiap diajak ke pasar oleh Ama dan melewati penjual buku dan majalah, Aku selalu merengek minta dibelikan majalah Bobo. Tidak masalah jika itu adalah majalah bekas yang sering berisi coretan dari pemilik sebelumnya. Juga tidak masalah jika ada lembaran yang hilang atau terkena noda dari makanan. Yang penting Aku bisa membaca dan berimajinasi mengikuti jalan ceritanya.
Namun tiba-tiba muncul ingatan tentang sebuah buku yang pernah dipinjamkan oleh temanku. Buku yang berukuran seperti komik dengan kulit luarnya bergambar beberapa orang anak dan seekor anjing. Buku itu berjudul Lima Sekawan (Di Pulau Harta) karangan Enid Blyton. Kisah petualangan empat orang anak dan seekor anjing, layaknya sebuah tim detektif cilik yang berusaha membongkar sebuah misteri. Buku yang ingin secepatnya selesai kubaca karena penasaran dengan akhir kisahnya, dan buku yang membuatku juga tertarik untuk membaca buku karangan Agatha Christie, dan komik-komik detektif meskipun aku tidak pernah mampu untuk memecahkan sebuah misteri seperti cerita-cerita yang pernah kubaca.

Erlina Susanti, Sungai Pua


Tugas 2

Jika aku sebuah buku maka Aku takut akan berada di lemari setelah aku sekali dibaca atau masih terbungkus rapi sama seperti saat aku di toko. Aku ingin menjadi buku yang selalu dibaca, dan jika aku bisa berharap, aku ingin memandang wajah-wajah berbeda setiap halamanku dibuka. Aku ingin membagikan ceritaku pada banyak orang, tak penting walau nanti akhirnya Aku harus mengorbankan tubuhku, asalkan setiap kata-kata yang tertulis dalam halamanku akan membawa manfaat untuk pembacaku.

Erlina Susanti,Sungai Pua

























No comments:

Post a Comment